Just another WordPress.com weblog

Terbaru

Perawatan Burung Kenari

Perawatan harian untuk burung kenari  tidak jauh berbeda dengan burung kicau lain kebanyakan. Berikut ini pola perawatan harian untuk `burung kenari` secara sederhana namun berkualitas :
1. pagi hari [sekitar jam 7 pagi] burung di angin-anginkan di tempat teduh, ex : biasanya di teras depan rumah.
2. kontrol pakan dan minum harian burung, tambah apabila pakan dan minum burung dalam kandang habis/tinggal sedikit.
3. berikan sayur[sawi, timun, gambas], buah [apel], atau telur [biasanya telur puyuh]. #pemberian telur jangan terlalu sering, karena dapat membuat kenari kegemukan yang akhirnya jarang berkicau.
4. jemur secara rutin, usahakan menjemur burung di pagi hari selama 1,5-2jam [ antara jam 7-9 pagi]. penjemuran minimal 2x seminggu.

5. setelah dijemur dibawah terik matahari,  `jangan langsung dikerudung`. sebab bisa menyebabkan penyakit pada mata burung kenari/burung kicau lainnya. sahakan di taruh di tempat yang dingin/di angin-anginkan kembali. setelah itu dikerudung apabila diperlukan.

6. usahakan jangan taruh  kandang/sangkar burung kenari dengan burung kenari lain secara berdekatan. sebab bisa membuat `mental` salah satu burung menjadi down/takut. usahakan apabila mempunyai burung kenari lebih dari 1 di rumah, taruh kandang berjauhan, ex : di depan dan dibelakang rumah. kecuali saat memaster kenari anakan, kandang dapat diletakkan secara berdekatan. #lebih efisien+efektif tempat.

7. pagi sebelum dijemur atau sore hari [sekitar jam 4-5 sore], kenari bisa juga dimandikan dengan menaruh wadah sebagai tempat mandi burung. #usahakan kenari jangan disemprot, karena bisa menyebabkan “pilek” pada kenari.

8. `kerudung/slongkop` burung bila perlu. apabila burung kenari ingin dimaster dengan suara burung lain, waktu yang tepat adalah sore [menjelang malam hari]. dengarkan burung dengan suara master-an dengan lirih/jangan terlalu keras. ex : dari tape recorder atau HaPe.

9. bisa juga memberikan `vitamin` sebagai tambahan agar kenari selalu fit+rajin berkicau. #pemberian kroto bila perlu, namun tidak hars diberikan.

`Lokal super - putih polos`

      

 

 

Selamat mencoba …

Iklan

Pemilihan Induk Betina Burung Kenari

             Secara sepintas mungkin jenis kelamin kenari jantan atau betina terlihat sama, apalagi buat para penghobi baru yang akan menekuni/mencoba beternak burung kenari. Bahkan buat peternak-pun kadang masih sedikit repot membedakan jenis kelamin kenari antara jantan/betina dari fisik luar, apalagi mengetahui ciri-ciri betina burung kenari yang akan dijadikan sebagai indukan. Terlebih buat para penghobi yang akan beternak burung kenari. Yang sering terjadi, kenari yang akan dikawinkan selalu bertengkar di dalam kandang dikarenakan kenari betina yang masih belum siap untuk dikawinkan. Berikut akan dijelaskan ciri-ciri induk betina kenari [lokal, loper, AF] yang siap untuk dikawinkan/dijodohkan :

Gambar

  1. Burung kenari betina dicirikan memiliki bentuk/postur badan bulat, pendek, kepala kecil [namun tidak selalu demikian], yang pasti kenari harus berjenis kelamin betina.
  2. Burung kenari betina harus berumur 6-9 bulan, dengan ciri-ciri : kaki sudah agak kasar, bulu sudah berganti minimal 2X, bulu didaerah perut sudah hilang, perut kenari sudah sejajar dengan dada, warna perut sudah me-merah. [untuk kenari warna gelap, hijau, romeo, starblue, dst rata-rata umur 6-7bulan sudah siap untuk dikawinkan]
  3. Burung kenari betina [berumur 6-9 bulan] apabila mendengar suara pejantan, secara spontan akan gelisah, terkadang juga diikuti dengan suara serupa/menyerupai pejantan, maupun hanya bunyi “cit..ciit….” merespon pejantan.
  4. Apabila kenari betina disandingkan/didekatkan dengan kenari jantan, kenari betina diam. Apabila si pejantan berbunyi, kenari betina mengepakkan sayapnya (pertanda ingin segera dikawinkan). Namun ada juga kenari betina yang tidak mengepakkan sayapnya tapi setelah dicampurkan dengan pejantan, kenari betina tersebut kawin/berjodoh.
  5. Bila telah sesuai dengan ciri-ciri di atas, dalam kandang kenari betina disediakan kotak/rotan sebagai sarang beserta serabutnya, ex : kapas, serutan bambu, ranting2 kecil, dst (di pasar burung banyak tersedia). Bila kenari betina dengan semangat membuat+mengatur, bahkan mengacak-acak sarang dalam kotak yang disediakan, kenari jantan siap dimasukkan dalam kandang. Proses perkawinan akan terjadi secepatnya.
  6. Namun apabila kenari betina tidak semangat membuat+mengatur, bahkan mengacak-acak sarang dalam kotak yang disediakan, perlu di cek ulang pada No.2 di atas. Mungkin umur burung masih dibawah 6 bulan, atau kadang mungkin burung betina masih belum cukup birahi, sehingga masih belum mau dikawinkan [khusus untuk warna putih, rata-rata betina mau kawin pada usia 1 tahun, berbeda dengan warna lainnya, ex : oranye, kuning, dst] 
  7. Setelah proses perkawinan terjadi [2-3 hari kemudian] betina akan bertelur. 1 butir/hari atau 1butir/2hari. Setelah telur dikotak sarang berjumlah 2-3butir, kenari jantan dipisahkan dari kandang betina. Atau tetap dibiarkan sampai jumlah telur 5-6 butir [tegantung peternak].
  8. Setelah kurang lebih 2 minggu, telur akan menetas.

Gambar

Selamat Mencoba…..

              

Perawatan burung sirpu

 

` Burung sirpu`  adalah jenis burung lokal yang dulunya tidak pernah ‘dilirik’ oleh para penghobi burung kicau untuk di piara sebagai hiburan di rumah, seperti yang dialami oleh penulis sendiri. Tapi berbeda dengan sekarang, burung sirpu ini termasuk jenis burung kecil, mungil, lucu tentunya mempunyai suara yang lumayan atau bahkan sangat enak untuk di dengar, sehingga mulai banyak diburu orang. Sebagian kecil orang beranggapan, burung sirpu adalah `miniatur` burung kacer/cucak ijo karena kemiripan suaranya. Ada dua jenis burung sirpu [seperti pengalaman yang didapat oleh penulis sendiri di berbagai tempat] :

  1. burung sirpu jenis merah, ciri-ciri : corak warna bulu badan lebih terang/hijau, sepintas mirip burung cucak ijo. suara sirpu jenis ini juga menyerupai burung cucak ijo. sebagian kecil orang/penghobi burung banyak yang beranggapan jenis ini lebih bagus suaranya daripada jenis yang lain [tidak selalu benar]. namun, jenis burung sirpu `merah`  ini jarang ditemui. (penulis sendiri hanya menjumpai+pernah melihara 1x jenis burung sirpu merah ini, ternyata memang suaranya lebih bagus daripada yang jenis putih)
  2. burung sirpu jenis putih, ciri-ciri : corak warna bulu badan agak sedikit putih [lebih putih/muda daripada yang jenis merah/hijau]. ciri yang paling mencolok dari jenis burung sirpu ini adalah saat berbunyi kebanyakan seperti ini… `tii….tuu… tii… tuu…`.

Namun terkadang masih banyak orang yang sulit membedakan jenis kelamin burung sirpu ini (termasuk juga penulis), antara jantan dan betina karena memang jenis burung ini sulit dibedakan jenis kelaminnya. Ada sedikit perbedaan yang `mencolok`  antara burung sirpu jantan dan betina :

  • burung sirpu jantan, biasanya memiliki lidah/daerah mulut yang berwarna hitam, sedangkan burung sirpu betina berwarna putih [ namun ini bukan ciri yang spesifik].
  • hanya burung sirpu jantan saja yang  bisa “bersiul” atau bersuara merdu, sedangkan yang betina biasanya hanya mengeluarkan suara..  `creeet.. creetttt….`

Berikut ini pola perawatan harian untuk `burung sirpu` secara sederhana namun berkualitas :

  1. [pagi hari] kontrol pakan dan minum harian burung, tambah apabila pakan dan minum burung dalam kandang habis/tinggal sedikit.
  2. usahakan jemur setiap hari [antara jam 7-12 siang]. karena burung sirpu adalah jenis burung `panas`, jadi pola jemur adalah pola menu harian yang wajib untuk burung ini.
  3. setelah itu didinginkan di tempat yang teduh [biasanya burung sirpu setelah dijemur akan langsung berbunyi merdu].
  4. untuk pemberian ‘EF/Ekstra Pooding’ berupa jangkrik atau kroto, dilakukan `jarang-jarang` saja, maksimal 2x seminggu. ex : selasa & jum’at, senin & kamis. ..           biarkan burung sirpu memakan foor/pelet sebagai menu harian. [Penting!! burung sirpu adalah burung yang sangat mudah `jinak`, jadi apabila terlalu sering diberi EF berupa jangkrik atau kroto, maka burung ini akan semakin malas untuk berkicau & hanya mau berkicau saat akan diberi EF sama pemiliknya; penulis 3x mempunyai pengalaman seperti ini] usahakan untuk memelihara burung sirpu yang sudah mau memakan pelet/foor kering
  5. Penting juga!! burung sirpu adalah burung yang sangat/malas untuk mandi. jadi usahakan jangan sampai menyemprot/memandikan burung ini secara` paksa`. cukup sediakan minum yang cukup dalam kandang. [dari pengalaman penulis sendiri pernah memelihara burung sirpu yang bagus, tapi setelah suatu hari disemprot, burung sirpu penulis malah stress + gak mau berkicau sama sekali. bahkan di dekati orang pun langsung `nabrak nabrak` ruji kurungannya, setelah itu mati… ]

Mudah-mudahan bermanfaat…..

Perawatan burung prenjak

 

`Burung prenjak` adalah jenis burung kicau yang banyak diminati penggemar burung karena suaranya yang khas, perawatannya mudah, serta memiliki “karakter/tingkah laku” yang bisa dibilang `unik dan lucu`.

Perawatan harian untuk burung prenjak ini tidak jauh berbeda dengan burung kicau lain kebanyakan. Berikut ini pola perawatan harian untuk `burung prenjak` secara sederhana namun berkualitas :

  1. pagi hari [sekitar jam 7 pagi] burung di angin-anginkan di tempat teduh, ex : biasanya di teras depan rumah.
  2. kontrol pakan dan minum harian burung, tambah apabila pakan dan minum burung dalam kandang habis/tinggal sedikit.
  3. berikan 1-2 ekor jangkrik setiap pagi dan sore hari [jangan berlebih untuk menghindari  `birahi`  burung prenjak].
  4. jemur secara rutin, usahakan menjemur burung di pagi hari selama 1,5-2jam [ antara jam 7-9 pagi]. penjemuran minimal 2x seminggu.
  5. setelah dijemur dibawah terik matahari,  `jangan langsung dikerudung`. sebab bisa menyebabkan penyakit pada mata burung prenjak/burung kicau lainnya. sahakan di taruh di tempat yang dingin/di angin-anginkan kembali.
  6. jangan taruh  kandang burung prenjak dengan burung prenjak lain secara berdekatan. sebab bisa membuat `mental` salah satu burung menjadi down/takut. usahakan apabila mempunyai burung prenjak lebih dari 1 di rumah, taruh kandang berjauhan, ex : di depan dan dibelakang rumah.
  7. sore hari [sekitar jam 4-5 sore] kasih jangkrik 1-2 ekor. setelah itu burung dimandikan/disemprot bila perlu.
  8. `kerudung/slongkop` burung bila perlu. apabila burung prenjak ingin dimaster dengan suara burung lain, waktu yang tepat adalah sore [menjelang malam hari]. dengarkan burung dengan suara master-an dengan lirih/jangan terlalu keras. ex : dari tape recorder atau HaPe.
  9. `perlu diingat` pemberian kroto dan ulat hongk_ng/kand_ng seperlunya saja [2minggu 1x] untuk menghindari birahi burung prenjak secara berlebihan.
  10.  apabila burung prenjak ingin ditrack/di adu dengan burung prenjak lain, kurangi porsi jangkrik/kroto yang berlebih saat akan diadu [agar performa burung stabil dan tidak over  “salto“.

selamat mencoba …

 

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah melakukan keputusan politis penting dengan memilih Boediono sebagai calon wakil presiden untuk mendampinginya pada pemilihan presiden pada Juli mendatang. Kenapa SBY memilih pemimpin otoritas moneter itu?

Pada masa pemerintahan SBY, jumlah utang Indonesia setiap tahun semakin menumpuk. Pada 2009, jumlah utang Indonesia sudah mencapai Rp 920 triliun. Dana pinjaman itu berasal dari Bank Dunia serta negara-negara donor dan negara multilateral lainnya. Dana pinjaman dari negara-negara donor tentu tidak serta-merta diberikan. Negara-negara donor selalu memperhatikan bagaimana kebijakan SBY ke depan dan melalui siapa dana itu diberikan. Tentu ini membutuhkan orang-orang kepercayaan pasar. Sebab, kebijakan mereka memberi nilai tawar tersendiri bagi negara-negara donor.

Profesor Boediono adalah pilihan terbaik SBY, jika ingin mendapat antusiasme pasar. Boediono sosok yang sudah dikenal di kalangan pelaku pasar dan bisa dipercaya lembaga-lembaga ekonomi global. Boediono adalah ekonom tamatan Amerika Serikat dan dikenal penganut tata ekonomi fundamentalisme pasar. Fundamentalisme pasar adalah orang-orang yang sangat optimistis terhadap pasar. Fundamentalisme pasar merupakan mazhab ekonomi yang muncul untuk merespons paradigma ekonomi Keynesian. Ekonomi Keynesian memberi porsi besar bagi pemerintah mengintervensi pasar melalui instrumen fiskal dan moneter. Pelopor ekonomi fundamentalisme pasar adalah Milton Friedman, yang mengambil alih konsep ekonomi neoklasik tentang “pasar bebas” Adam Smith. Sampai saat ini, pengikut Friedman bertebaran di seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Sejak zaman Orde Baru sampai setelah Reformasi, ekonom fundamentalisme pasar kerap menduduki pos-pos penting. Contohnya Boediono, yang memancing kontroversi hari-hari ini. Pada masa jabatannya sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, iklim mikro di Indonesia tidak tumbuh karena terjadi kesenjangan antara sektor makro dan mikro. Selama memimpin Bank Indonesia, Boediono telah mengambil langkah sangat ekstrem dalam merespons krisis. Kebijakan-kebijakan yang ekstrem itu seperti rezim devisa bebas dan membiarkan suku bunga dideterminasi kekuatan pasar. Pola-pola ini persis yang dikehendaki fundamentalisme pasar. Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan model yang sangat destruktif dan mekanik. Mekanik berarti seolah-olah pasar bergerak laksana pendulum yang melaju tanpa kendali dan tanpa pelaku (agency).

Tolok ukur kesejahteraan menurut tata ekonomi fundamentalisme pasar adalah investasi asing (FDI) dan dana pinjaman. Sebelum memberi pinjaman, lembaga-lembaga peminjam biasanya memonitor kebijakan makroekonomi sebuah negara. Kebijakan makroekonomi tersebut tentu harus ramah terhadap investor asing (friendly investor)–yang berarti menjalankan liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi.

Liberalisasi adalah minimalisasi peran negara dalam pasar. Negara-negara, seperti Indonesia, wajib membuka pasar finansial dan pasar modal serta membiarkan kompetisi pasar berkembang. Semua beban dalam bentuk kebijakan fiskal, pajak, tarif, subsidi, dan tenaga kerja ditiadakan. Sementara itu, privatisasi adalah pengalihan perusahaan-perusahaan milik negara ke sektor swasta. Privatisasi merupakan pengalihan tanggung jawab dari publik ke privat. Segala bentuk jaminan bagi para pengangguran, dana pensiun, dan jaring pengaman sosial bagi yang miskin ditiadakan. Secara ringkas, tiga agenda ini merupakan minimalisasi peran negara dari urusan ekonomi rakyat.

Tiga agenda di atas merupakan pilar utama Washington Consensus. Konsensus yang terjadi pada 1990 ini melibatkan lembaga-lembaga ekonomi global dan US Treasury. Liberalisasi dan privatisasi merupakan pintu masuk bagi investasi asing ke Indonesia. Namun, perlu diingat, lembaga-lembaga ekonomi global tidak sendirian mendesakkan agenda ini ke Indonesia. Kebijakan ini merupakan perpanjangan tangan dari komunitas bisnis dan finansial dari negara-negara maju.

Penetrasi asing di Indonesia tentu membahayakan nasib bangsa ke depan. Pertama, terjadinya asimetri informasi. Asimetri informasi adalah informasi yang tidak sejajar diterima pelaku pasar. Asimetri informasi tentu tidak akan terjadi jika tanpa adanya asimetri kekuasaan. Karena asimetri informasi inilah Indonesia kerap didikte negara-negara donor dan lembaga-lembaga ekonomi global. Segala keputusan yang menyangkut kebijakan negara perlu disesuaikan dengan kepentingan asing. Akibatnya, kedaulatan negara dan otonomi negara untuk menciptakan kebijakan pembangunan alternatif hilang. Undang-undang parlemen pun harus disesuaikan dengan persyaratan yang disodorkan negara-negara donor.

Dengan demikian, liberalisasi justru merusak tatanan negara demokrasi. Demokrasi memang berjalan, namun demokrasi yang mengabdi pada kepentingan pebisnis. Kepentingan pebisnis ini sering menyandera aparat pemerintah, membeli supervisi dan hukum legal lainnya. Tidak mengherankan jika berkali-kali di Indonesia muncul konflik kepentingan, karena sektor privat melakukan praktek penyuapan terhadap aparat pemerintah. Akibat aktivitas pemburu rente tersebut, praktek korupsi meluas.

Kedua, subordinasi usaha berskala mikro. Liberalisasi membuka pintu bagi pembangunan top down. Model ini menggerogoti lembaga-lembaga intermediasi, seperti perbankan. Orientasi perbankan selalu berpihak pada korporasi-korporasi berskala raksasa. Sebagaimana kita saksikan bank-bank nasional kita lebih suka memberi kredit kepada 331 perusahaan raksasa daripada menyalurkan kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah yang mencapai 44 juta.

Risiko copy-paste model Barat menggerus dan memarginalisasi pengusaha lokal dan petani miskin. Rakyat dan pebisnis lokal tidak diberi ruang gerak mengakses dan mengenal pasar. Sistem ekonomi liberal dan terlalu terbuka terhadap persaingan asing justru mempersulit petani dan pengusaha lokal mengakses ke sumber dana. Akibat pertumbuhan ekspor mandek, budaya saving melemah dan income terus merosot. Dalam kondisi masyarakat yang miskin akan terjadi problem serius, konflik sosial akan meluas, inflasi dan pengangguran meningkat. Kondisi sosial-politik yang tidak kondusif justru membahayakan proses investasi ke depan. Pertanyaan yang perlu kita sodorkan adalah sudah tepatkah pilihan SBY terhadap Boediono?

EKONOMI PASAR YANG NEO-LIBERALISTIK VERSUS EKONOMI BERKEADILAN SOSIAL

Media biasa menggunakan kata-kata: “Rupiah anjlok karena pemerintah tidak mengikuti kemauan
pasar atau kehendak pasar”. Inilah yang dimaksud sebagai keterikatan terhadap Modal atau
keterikatan terhadap Ekonomi Pasar. Arti yang dimaksud dari istilah “pasar” tersebut adalah
sistem ekonomi yang kapitalistik. “Pasar Bebas” artinya kebebasan bergerak dari ekonomi modal
(dan para pemilik modal) sebebas-bebasnya. Pasar bebas adalah mesin utama dari Globalisasi
yang saat ini sedang naik daun. Dan untuk memahami Pasar Bebas ini, maka orang perlu
memahami Neo-Liberalisme (liberalisme baru). Inilah ideologi mutakhir kapitalisme yang saat ini
sedang jaya-jayanya, terutama slogan TINA (There is No Alternatives) dari mulut Margaret
Thatcher. Semenjak 1970-an hingga kini, Neo-Liberalisme mulai menanjak naik menjadi kebijakan
dan praktek negara-negara kapitalis maju, dan didukung oleh pilar-pilar badan dunia: Bank Dunia,
IMF dan WTO.
Dengan memahami Neo-Liberal, maka kita dapat memahami berbagai sepak terjang badan-badan
multilateral dunia; kita dapat memahami perubahan kebijakan domestik di negara-negara maju;
kita dapat memahami mengapa terjadi krisis moneter dan ekonomi yang tidak berkesudahan; kita
dapat memahami mengapa Indonesia didikte dan ditekan terus oleh IMF; kita dapat memahami
mengapa Rupiah tidak pernah stabil; kita dapat memahami mengapa BUMN didorong untuk diprivatisasi;
kita dapat memahami mengapa listrik, air, BBM, dan pajak naik; kita dapat memahami
mengapa impor beras dan bahan pangan lain masuk deras ke Indonesia; kita dapat memahami
mengapa ada BPPN, Paris Club, Debt Rescheduling dan lain-lain; dan banyak lagi soal-soal yang
membingungkan dan memperdayai publik.
Nama dari program Neo-Liberal yang terkenal dan dipraktekkan dimana-mana adalah SAP
(Structural Adjustment Program). Program penyesuaian struktural merupakan program utama dari
Bank Dunia dan IMF, termasuk juga WTO dengan nama lain. WTO memakai istilah-istilah seperti
fast-track, progressive liberalization, harmonization dan lain-lain. Intinya tetap sama. Di balik nama
sopan “penyesuaian struktural”, adalah “penghancuran dan pendobrakan radikal” terhadap
struktur dan sistem lama yang tidak bersesuaian dengan mekanisme pasar bebas murni. Jadi
Pasar Bebas adalah intinya (mesin penggeraknya), Neo-Liberal adalah ideologinya, dan SAP
adalah praktek atau implementasinya. Sementara tujuannya adalah ekspansi sistem kapitalisme
global.
PASAR BEBAS VERSI NEO-LIBERALISME
Sejarah Neo-Liberal bisa dirunut jauh ke masa-masa tahun 1930-an. Adalah Friedrich von Hayek
(1899-1992) yang bisa disebut sebagai Bapak Neo-Liberal. Hayek terkenal juga dengan julukan
ekonom ultra-liberal. Muridnya yang utama adalah Milton Friedman, pencetus monetarisme.
Pada saat itu adalah juga masa kejayaan Keynesianisme, sebuah aliran ilmu ekonomi oleh John
Maynard Keynes. Keynesian dianggap berjasa dalam memecahkan masalah Depresi besar tahun
1929-1930. Terutama setelah diadopsi oleh Presiden Roosevelt dengan program “New-Deal”
maupun Marshall Plan untuk membangun kembali Eropa setelah Perang Dunia ke-II, maka
Keynesian resmi menjadi mainstream ekonomi. Bahkan Bank Dunia dan IMF kala itu terkenal
sebagai si kembar Keynesianis, karena mempraktekkan semua resep Keynesian. Dasar pokok
dari ajaran Keynes adalah kepercayaannya pada intervensi negara ke dalam kehidupan ekonomi.
Menurutnya, kebijakan ekonomi haruslah mengikis pengangguran sehingga tercipta tenaga kerja

penuh (full employment) serta adanya pemerataan yang lebih besar. Dalam bukunya yang
terkenal di tahun 1926 berjudul “The End of Laissez-Faire”, Keynes menyatakan
ketidakpercayaannya terhadap kepentingan individual yang selalu tidak sejalan dengan
kepentingan umum. Katanya, “Sama sekali tidak akurat untuk menarik kesimpulan dari prinsipprinsip
ekonomi politik, bahwa kepentingan perorangan yang paling pintar sekalipun akan selalu
bersesuaian dengan kepentingan umum”. Keynesianisme masih tetap menjadi dominant economy
sampai tahun 1970-an.
Sementara itu neo-liberal belum lagi bernama. Akan tetapi Hayek dan kawan-kawan sudah
merasa gelisah dengan mekarnya paham Keynes ini. Pada masa itu pandangan semacam neoliberal
sama sekali tidak populer. Meskipun begitu mereka membangun basis di tiga universitas
utama: London School of Economics (LSE), Universitas Chicago, dan Institut Universitaire de
Hautes Etudes Internasionales (IUHEI) di Jenewa. Para ekonom kanan inilah yang kemudian
setelah PD-II mendirikan lembaga pencetus neo-Liberal, yaitu Societe du Mont-Pelerin, Pertemuan
mereka yang pertama di bulan April 1947 dihadiri oleh 36 orang dan didanai oleh bankir-bankir
Swiss. Termasuk hadir adalah Karl Popper dan Maurice Allais, serta tiga penerbitan terkemuka,
Fortune, Newsweek dan Reader’s Digest. Lembaga ini merupakan “semacam freemansory neoliberal,
sangat terorganisir baik dan berkehendak untuk menyebarluaskan kredo kaum neo-liberal,
lewat pertemuan-pertemuan internasional secara reguler”.
Pandangan Neo-Liberal dapat diamati dari pikiran Hayek. Bukunya yang terkenal adalah “The
Road to Serfdom” (Jalan ke Perbudakan) yang menyerang keras Keynes. Buku tersebut kemudian
menjadi kitab suci kaum kanan dan diterbitkan di Reader’s Digest di tahun 1945. Ada kalimat di
dalam buku tersebut: “Pada masa lalu, penundukan manusia kepada kekuatan impersonal pasar,
merupakan jalan bagi berkembangnya peradaban, sesuatu yang tidak mungkin terjadi tanpa itu.
Dengan melalui ketertundukan itu maka kita bisa ikut serta setiap harinya dalam membangun
sesuatu yang lebih besar dari apa yang belum sepenuhnya kita pahami”. Neo-liberal
menginginkan suatu sistem ekonomi yang sama dengan kapitalisme abad-19, di mana kebebasan
individu berjalan sepenuhnya dan campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam
kehidupan ekonomi. Regulator utama dalam kehidupan ekonomi adalah mekanisme pasar, bukan
pemerintah. Mekanisme pasar akan diatur oleh persepsi individu, dan pengetahuan para individu
akan dapat memecahkan kompleksitas dan ketidakpastian ekonomi, sehingga mekanisme pasar
dapat menjadi alat juga untuk memecahkan masalah sosial. Menurut mereka, pengetahuan para
individu untuk memecahkan persoalan masyarakat tidak perlu disalurkan melalui lembagalembaga
kemasyarakatan. Dalam arti ini maka Neo-liberal juga tidak percaya pada Serikat Buruh
atau organisasi masyarakat lainnya.
Dengan demikian Neo-liberal secara politik terus terang membela politik otoriter. Ini ditunjukkan
oleh Hayek ketika mengomentari rejim Pinochet di Chili, “Seorang diktator dapat saja berkuasa
secara liberal, sama seperti mungkinnya demokrasi berkuasa tanpa liberalisme. Preferensi
personal saya adalah memilih sebuah kediktatoran liberal ketimbang memilih pemerintahan
demokratis yang tidak punya liberalisme”. Demokrasi politik, menurut neo-Liberal, dengan
demikian adalah sistem politik yang menjamin terlaksananya kebebasan individu dalam
melakukan pilihan dalam transaksi pasar, bukan sistem politik yang menjamin aspirasi yang
pluralistik serta partisipasi luas anggota masyarakat. Bahkan salah seorang pentolan neo-Liberal,
William Niskanen, menyatakan bahwa suatu pemerintah yang terlampau banyak mengutamakan
kepentingan rakyat banyak adalah pemerintah yang tidak diinginkan dan tidak akan stabil. Bila
terjadi konflik antara demokrasi dengan pengembangan usaha yang kapitalistis, maka mereka
memilih untuk mengorbankan demokrasi.
Salah satu benteng neo-liberal adalah Universitas Chicago, di mana Hayek mengajar di situ antara
tahun 1950 sampai 1961, dan Friedman menghabiskan seluruh karir akademisnya. Karena itu
mereka juga terkenal sebagai “Chicago School”. Buku Friedman adalah “The Counter Revolution
in Monetary Theory”, yang menurutnya telah dapat menyingkap hukum moneter yang telah
diamatinya dalam berabad-abad dan dapat dibandingkan dengan hukum ilmu alam. Friedman
percaya pada freedom of choice (kebebasan memilih) individual yang ekstrim. Dengan demikian,
neo-Liberal tidak mempersoalkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan di dalam
masyarakat. Pertumbuhan konglomerasi dan bentuk-bentuk unit usaha besar lainnya semata-mata
dianggap sebagai manifestasi dari kegiatan individu atas dasar kebebasan memilih dan
persaingan bebas. Efek sosial yang ditimbulkan oleh kekuasaan ekonomi pada segelintir
kelompok kuat tidak dipersoalkan oleh neo-Liberal. Karenanya demokrasi ekonomi tidak ada di
dalam agenda kaum neo-Liberal.1
Pandangan kaum neo-Liberal pada dasarnya tidak populer di masyarakat Barat. Mereka anti
terhadap welfare state (negara kesejahteraan) dan mereka juga anti demokrasi. Tetapi mengapa
mereka bisa berjaya sekarang? Susan George menjawabnya, bahwa mereka berasal dari sebuah
kelompok kecil rahasia dan mereka sangat percaya pada doktrin tersebut, yang kemudian dengan
bantuan para pendananya, membangun jaringan yayasan-yayasan internasional yang besar,
lembaga-lembaga, pusat-pusat riset, berbagai publikasi, para akademisi, para penulis, serta
humas yang mengembangkan, mengemas dan mempromosikan ide dan doktrin tersebut tanpa
henti. Kata Susan, “mereka membangun kader-kader ideologis yang luar biasa efisiennya karena
mereka memahami apa yang disampaikan oleh pemikir marxis Itali Antonio Gramsci ketika ia
berbicara tentang konsep hegemoni kultural. Bila kamu dapat menguasai kepala orang, maka hati
dan tangan mereka akan ikut”.2 Salah seorang yang menjadi ujung tombaknya adalah Anthony
Fisher, seorang pengusaha sukses yang kemudian mendirikan Institute of Economic Affairs (IEA)
pada tahun 1955 dengan bantuan dana dari kaum indutrialis lainnya. Tujuan lembaga ini adalah
“menyebarkan pemikiran ekonomi yang kuat di berbagai universitas dan berbagai lembaga
pendidikan mapan lainnya”. IEA inilah yang kemudian memberi pengaruh besar kepada Margaret
Thatcher, seperti dikatakan Milton Friedman, “Tanpa adanya IEA, maka saya meragukan akan
bisa terjadi revolusi Thatcherite”. Salah satu koran yang menjadi corong neo-Liberal di Inggeris
adalah The Daily Telegraph. Lembaga lain juga didirikan, yaitu Centre for Policy Studies (CPS) di
tahun 1974 yang sangat berpengaruh kepada para politisi di Inggeris. IEA kemudian melahirkan
Adam Smith Institute (ASI) di tahun 1976. Kerjasama mereka dengan Heritage Foundation,
didirikan di Washington tahun 1973 oleh lulusan LSE, adalah “guna membuat hal yang sama bagi
politik Amerika sebagaimana yang dilakukan oleh CPS kepada politik Inggeris”. Anthony Fisher
kemudian menjadi presiden pertama dari lembaga Fraser Institute di Kanada di tahun 1974. Di
tahun 1977, ia mendirikan International Centre for Economic Policy Studies di New York, di mana
salah satu pendirinya adalah Bill Casey, yang kemudian menjadi Direktur CIA. Tahun 1979, Fisher
mendirikan Institute for Public Policy di San Francisco. Fisher juga terlibat dalam mendirikan
Centre for International Studies (CIS) di Australia, di mana Direkturnya Greg Lindsay merupakan
kontributor penting berkembangnya ide pasar bebas di politik Australia. Dalam rangka
memudahkan mengelola berbagai lembaga tersebut, Fisher mendirikan Atlas Economic Research
Foundation yang menyediakan struktur kelembagaan pusat, yang di tahun 1991 mengklaim
membantu, mendirikan, membiayai sekitar 78 lembaga serta mempunyai hubungan dengan 81
lembaga lainnya di 51 negara. Ketika tembok Berlin rubuh, maka banyak personelnya yang pindah
ke Eropa Timur guna “merubah ekonomi-ekonomi yang sakit menjadi kapitalisme”.3
Para ekonom neo-Liberal di tahun 1970-an berhasil menembus dominasi ilmu ekonomi. Di tahun
1974, Hayek dianugerahi Nobel Ekonomi. Sesudahnya Friedman mendapat Nobel Ekonomi di
tahun 1976. Juga Maurice Allais, seorang anggota Mont-Pelerin Society, mendapat Nobel
Ekonomi di tahun 1988. Sejak tahun 1970-an, neo-Liberal mulai berkibar. Sejak itu pulalah seluruh
paradigma ekonomi secara perlahan masuk ke dalam cara berpikir neo-Liberal, termasuk ke
dalam badan-badan multilateral, Bank Dunia, IMF dan GATT (kemudian menjadi WTO).
Dengan demikian Margaret Thatcher menjadi pengikut dari Hayek, sedangkan murid dari
Friedman adalah Ronald Reagan. Inilah yang menghantar neo-Liberal menjadi ekonomi
mainstream di tahun 1980-an lewat Thatcherism dan Reaganomics. Thatcher sebenarnya adalah
seorang social-darwinist, sampai akhirnya ia menemukan buku Hayek, dan kemudian menjadi
salah satu pengikutnya. Doktrin pokok dari Thatcher adalah paham kompetisi – kompetisi di antara
negara, di antara wilayah, di antara perusahaan-perusahaan, dan tentunya di antara individu.
Kompetisi adalah keutamaan, dan karena itu hasilnya tidak mungkin jelek. Karena itu kompetisi
dalam pasar bebas pasti baik dan bijaksana. Kata thatcher suatu kali, “Adalah tugas kita untuk
terus mempercayai ketidakmerataan, dan melihat bahwa bakat dan kemampuan diberikan jalan
keluar dan ekspresi bagi kemanfaatan kita bersama”. Artinya, tidak perlu khawatir ada yang
tertinggal dalam persaingan kompetitif, karena ketidaksamaan adalah sesuatu yang alamiah. Akan
tetapi ini baik karena berarti yang terhebat, terpandai, terkuat yang akan memberi manfaat pada
semua orang. Hasilnya, di Inggeris sebelum Thatcher, satu dari sepuluh orang dianggap hidup di
bawah kemiskinan. Kini, satu dari empat orang dianggap miskin; dan satu anak dari tiga anak
dianggap miskin. Thatcher juga menggunakan privatisasi untuk memperlemah kekuatan Serikat
Buruh. Dengan privatisasi atas sektor publik, maka Thatcher sekaligus memperlemah Serikat-
Serikat Buruh di BUMN yang merupakan terkuat di Inggeris. Dari tahun 1979 sampai 1994, maka
jumlah pekerja dikurangi dari 7 juta orang menjadi 5 juta orang (pengurangan sebesar 29%).
Pemerintah juga menggunakan uang masyarakat (para pembayar pajak) untuk menghapus hutang
dan merekapitalisasi BUMN sebelum dilempar ke pasar. Contohnya Perusahaan Air Minum (PAM)
mendapat pengurangan hutang 5 milyar pounds ditambah 1,6 milyar pounds dana untuk
membuatnya menarik sebelum dibeli pihak swasta. Demikian pula di Amerika, kebijakan neo-
Liberal Reagan telah membawa Amerika menjadi masyarakat yang sangat timpang. Selama
dekade 1980an, 10% teratas meningkat pendapatannya 16%; 5% teratas meningkat
pendapatannya 23%; dan 1% teratas meningkat pendapatannya sebesar 50%. Ini berkebalikan
dengan 80% terbawah yang kehilangan pendapatan; terutama 10% terbawah, jatuh ke titik nadir,
kehilangan pendapatan15%.4
Sejak 1980-an pula, bersamaan dengan krisis hutang Dunia Ketiga, maka paham neo-Liberal
menjadi paham kebijakan badan-badan dunia multilateral Bank Dunia, IMF dan WTO. Tiga poin
dasar neo-Liberal dalam multilateral ini adalah: pasar bebas dalam barang dan jasa; perputaran
modal yang bebas; dan kebebasan investasi. Sejak itu Kredo neo-Liberal telah memenuhi pola
pikir para ekonom di negara-negara tersebut. Kini para ekonom selalu memakai pikiran yang
standard dari neo-Liberal, yaitu deregulasi, liberalisasi, privatisasi dan segala jampi-jampi lainnya.
Kaum mafia Berkeley UI yang dulu neo-klasik, kini juga berpindah paham menjadi neo-liberal.
Poin-poin pokok neo-Liberal dapat disarikan sebagai berikut:5
1. ATURAN PASAR. Membebaskan perusahaan-perusahaan swasta dari setiap keterikatan yang
dipaksakan pemerintah. Keterbukaan sebesar-besarnya atas perdagangan internasional dan
investasi. Mengurangi upah buruh lewat pelemahan serikat buruh dan penghapusan hak-hak
buruh. Tidak ada lagi kontrol harga. Sepenuhnya kebebasan total dari gerak modal, barang
dan jasa.
2. MEMOTONG PENGELUARAN PUBLIK DALAM HAL PELAYANAN SOSIAL. Ini seperti
terhadap sektor pendidikan dan kesehatan, pengurangan anggaran untuk ‘jaring pengaman’
untuk orang miskin, dan sering juga pengurangan anggaran untuk infrastruktur publik, seperti
jalan, jembatan, air bersih – ini juga guna mengurangi peran pemerintah. Di lain pihak mereka
tidak menentang adanya subsidi dan manfaat pajak (tax benefits) untuk kalangan bisnis.
3. DEREGULASI. Mengurangi paraturan-peraturan dari pemerintah yang bisa mengurangi
keuntungan pengusaha.
4. PRIVATISASI. Menjual BUMN-BUMN di bidang barang dan jasa kepada investor swasta.
Termasuk bank-bank, industri strategis, jalan raya, jalan tol, listrik, sekolah, rumah sakit,
bahkan juga air minum. Selalu dengan alasan demi efisiensi yang lebih besar, yang nyatanya
berakibat pada pemusatan kekayaan ke dalam sedikit orang dan membuat publik membayar
lebih banyak.
5. MENGHAPUS KONSEP BARANG-BARANG PUBLIK (PUBLIC GOODS) ATAU KOMUNITAS.
Menggantinya dengan “tanggungjawab individual”, yaitu menekankan rakyat miskin untuk
mencari sendiri solusinya atas tidak tersedianya perawatan kesehatan, pendidikan, jaminan
sosial dan lain-lain; dan menyalahkan mereka atas kemalasannya.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program di Bank Dunia dan IMF ini, maka program neo-
Liberal, mengambil bentuk sebagai berikut:6
1. Paket kebijakan Structural Adjustment (Penyesuaian Struktural), terdiri dari komponenkomponen:
(a) Liberalisasi impor dan pelaksanaan aliran uang yang bebas; (b) Devaluasi; (c)
Kebijakan moneter dan fiskal dalam bentuk: pembatasan kredit, peningkatan suku bunga
kredit, penghapusan subsidi, peningkatan pajak, kenaikan harga public utilities, dan
penekanan untuk tidak menaikkan upah dan gaji.
2. Paket kebijakan deregulasi, yaitu: (a) intervensi pemerintah harus dihilangkan atau
diminimumkan karena dianggap telah mendistorsi pasar; (b) privatisasi yang seluas-luasnya
dalam ekonomi sehingga mencakup bidang-bidang yang selama ini dikuasai negara; (c)
liberalisasi seluruh kegiatan ekonomi termasuk penghapusan segala jenis proteksi; (d)
memperbesar dan memperlancar arus masuk investasi asing dengan fasilitas-fasilitas yang
lebih luas dan longgar.
3. Paket kebijakan yang direkomendasikan kepada beberapa negara Asia dalam menghadapi
krisis ekonomi akibat anjloknya nilai tukar mata uang terhadap dollar AS, yang merupakan
gabungan dua paket di atas ditambah tuntutan-tuntutan spesifik disana-sini.